Menikmati Ragam Destinasi Wisata Alam di Bedugul dan Buleleng Bali



Cerita di Bali kali ini adalah lanjutan dari Blog sebelumnya: Menyusuri Jejak Gempa Lombok dan Snorkeling di Gili Meno Turtle Sanctuary

• • •

Selasa, 22 Januari 2019, petualangan di pulau Bali dimulai. Pagi hari, kami mengunjungi Monumen Bajra Sandhi yang merupakan salah satu landmark yang sangat bersejarah di Bali. Monumen ini didirikan untuk mengenang perjuangan rakyat Bali dalam melawan penjajahan Belanda pada masa lalu. Bagi saya, ini adalah kunjungan kedua kali ke monumen ini.




Saat itu, kami beruntung mendapatkan kesempatan untuk menjelajahi setiap sudut Monumen Bajra Sandhi. Berjalan di tengah relief dan patung-patung yang menggambarkan sejarah Bali, kami merasa seolah-olah dibawa kembali ke masa lalu yang penuh semangat perjuangan.





Siang harinya, petualangan berlanjut ke DTW Ulun Danu Beratan yang menawarkan pengalaman tak terlupakan: Bermain perahu dayung di tengah keindahan panorama alam yang memukau.



Perasaan sukacita memenuhi hati kami saat kami mengayuh perahu di atas danau yang tenang, sambil disuguhkan pemandangan pegunungan dan candi yang mencerminkan kemegahan warisan budaya Bali.



Malam harinya, semangat petualangan kami belum padam. Kami memilih untuk berkeliling di Denpasar dan bermalam di mobil yang menjadikan cerita ini berkesan. Berada di tengah-tengah alam, merasakan hembusan angin malam, sambil berbagi tawa dan cerita di dalam mobil, menjadi momen kebersamaan yang tak terlupakan.

Setiap momen dalam perjalanan ini, baik yang terencana maupun yang spontan, membawa kami ke dalam petualangan yang seru dan menyenangkan.

Keesokan harinya, Rabu, 23 Januari 2019, hari terakhir petualangan penuh makna. Pagi hari kami mengunjungi Pantai Pandawa, mengisi hati dengan keindahan pantai yang tersembunyi di antara tebing-tebing tinggi.



Menjelang siang, dari pantai selatan kami melanjutkan petualangan menembus hutan hingga sampai di sisi paling utara pulau Bali yakni di daerah Buleleng dan mengunjungi rumah teman kami yang memang asli orang Bali, lalu melanjutkan berwisata ke Air Terjun Jembong di tengah hutan Buleleng.



Sensasi air dingin yang begitu menyegarkan langsung membasahi kami, seolah-olah memberikan kehidupan baru. Suara gemuruh air terjun yang menghantam batu-batu besar menciptakan aura mistis dan kesan alami yang tak terlupakan.



Tersembunyi di tengah hutan yang lebat, air terjun ini masih terjaga dengan baik alaminya. Hal ini memungkinkan kami merasakan kesejukan alam dan menikmati indahnya pemandangan tanpa gangguan modernisasi. Seolah-olah kita berada di dunia lain, jauh dari hiruk pikuk perkotaan.



Sore harinya, perjalanan dilanjutkan dengan menyeberang dari Pelabuhan Gilimanuk Bali ke Pelabuhan Ketapang Banyuwangi. Dengan perasaan haru, perjalanan ekspedisi kemanusiaan yang mengesankan ini berakhir dan sampailah kami di Kota Malang, namun cerita dan kenangan sepanjang perjalanan tak akan pernah pudar dari hati kami.


Semoga cerita ini dapat memberikan inspirasi bagi para pembaca dan semangat untuk berbuat lebih banyak kebaikan di masa depan.