Cerita dalam Blog ini adalah lanjutan dari Blog Balada Magang di Lombok: Pulau Seribu Masjid yang Menjadi Pulau Seribu Gempa
Setelah beberapa waktu berlalu, sekitar satu bulan setengah pasca magang selesai, singkat cerita saya dan satu teman saya kembali ke Lombok melalui penerbangan dari Juanda International Airport Surabaya ke Lombok International Airport pada Kamis, 20 September 2018, untuk mengambil motor kami. Kami bersyukur Lombok sudah tidak diguncang gempa lagi.
Hari itu juga setelah kami bertemu, berbincang, dan berterima kasih kepada staf-staf di kantor Dinas Pariwisata Provinsi NTB, kami berdua langsung melakukan perjalanan darat dan laut di sore harinya menggunakan dua motor. Ini merupakan kunjungan ke Lombok tersingkat, hanya 2 jam kami di bumi Lombok dan langsung melakukan penyeberangan dari Pelabuhan Lembar Lombok ke Pelabuhan Padangbai Bali.
Sesampainya di Bali kami mampir dan menginap bermalam di rumah saudara teman saya di daerah Canggu. Kami beruntung sekali karena saudara teman saya yang seorang florist sangat baik menjamu kami, menyedikan tempat istirahat yang nyaman dengan fasilitas lengkap, membelikan kami makan malam yang sangat nikmat, dan menemani kami berbincang-bincang.
Keesokan harinya, Jumat, 21 September 2018, kami melihat koleksi-koleksi bunga dan tanaman hias yang dijual oleh saudara teman saya di toko beliau, Bunga Bali Landscape.
Kami juga sempat mengunjungi Bali Sea Turtle Society (BSTS) di jalan Pantai Kuta. BSTS ini merupakan organisasi non-profit yang mempunyai program-program edukatif. Salah satunya adalah konservasi dan perlindungan penyu, saat musimnya tepat kita dapat membantu untuk membebaskan anak-anak penyu yang baru menetas ke lepas pantai. Namun sayang sekali, sebagian besar foto-foto dan dokumentasi kami di BSTS ini hilang, jadi hanya sedikit yang dapat ditampilkan.
Setelah selesai di BSTS, kami berkeliling menikmati indahnya pulau Bali sebelum akhirnya melanjutkan perjalanan pulang ke Malang pada Sabtu, 22 September 2018.
Perjalanan magang di Lombok ini menjadi sebuah cerita yang tak akan terlupakan. Yang pada awalnya dihiasi dengan kegembiraan menjalani magang di Pulau Seribu Masjid, hingga menghadapi berbagai cobaan yang mengubah Lombok menjadi Pulau Seribu Gempa. Semoga cepat pulih kembali pariwisata Lombok. Bagi kami, pengalaman ini akan menjadi cerita magang yang mengesankan sekaligus menjadi bekal kehidupan.



.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)

.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)