Cerita petualangan mendaki Ranu Kumbolo menjadi pengalaman tak terlupakan bagi saya dan 7 teman kuliah saya di Malang. Bagi saya pribadi, sudah lama sekali saya ingin mendaki Gunung Semeru dan sampai di puncak Mahameru yang setiap hari terlihat dari depan kontrakan saya. Tapi, di pendakian ini memang kami rencanakan hanya sampai danau Ranu Kumbolo, tidak sampai puncak Mahameru.
Pada hari Sabtu, tanggal 22 Oktober 2016, kami bersemangat berangkat menuju Ranu Pani, basecamp awal untuk pendakian Gunung Semeru. Namun, seperti kisah petualangan sejati, rencana kami tidak berjalan mulus.
Tiba di Ranu Pani sore hari, harapan kami mendaki hampir terhenti. Jam menunjukkan pukul 17.00 WIB, dan aturan ketat mengharuskan pendaki untuk tiba sebelum jam tersebut. Di antara kami, seorang teman juga mengalami kendala karena Surat Keterangan Sehat-nya hilang. Jadi kami tidak diizinkan untuk mendaki di hari tersebut.
Namun, semangat kami tak luntur. Malam itu, kami mendirikan dua tenda di Ranu Pani, satu untuk kelompok laki-laki dan satu untuk kelompok perempuan.
Hari Ahad, tanggal 23 Oktober 2016, pagi yang dingin menyambut kami, dengan ketinggian 2114 mdpl, Ranu Pani dikelilingi oleh keindahan alam hijau di sekelilingnya, kami pun siap menyambut petualangan kami yang sebelumnya tertunda.
Setelah semua izin dan dokumen terkumpul, kami memulai perjalanan. Kami mengawali pendakian Gunung Semeru dengan penuh semangat, mengukir jejak perjuangan di setiap lekuk jalur menembus hutan. Meskipun langit mendung dan langit cerah bergantian, tekad kami tetap tak tergoyahkan.
Di tengah perjalanan, kami cukup terkejut karena menemukan warung kecil yang menawarkan banyak jajanan seperti gorengan, kacang, dan semangka segar. Kami pun istirahat sejenak sambil menikmati camilan.
Takdir memberikan ujian lagi. Kami harus mendaki bukit sebelum mencapai danau Ranu Kumbolo, dan hujan pun turun. Namun, kami tidak menyerah dan membuat momen ini menjadi seru, kami lanjutkan perjalanan dengan memakai jas hujan.
Setelah kurang lebih 4 jam perjalanan yang menguji fisik dan semangat kami, akhirnya danau Ranu Kumbolo mulai muncul di cakrawala. Betapa senangnya hati kami melihat pemandangan ini, meskipun gerimis kecil turun menyentuh wajah kami. Tanpa ragu, kami mengambil kamera dan mengabadikan momen indah ini.
Tantangan belum berakhir. Kami harus menuruni bukit yang indah namun menantang sebelum akhirnya mencapai tepi danau Ranu Kumbolo. Keindahan alam yang terbentang luas di hadapan kami memberikan semangat baru untuk melanjutkan perjalanan.
Tepat saat kami menginjakkan kaki di pos istirahat di Ranu Kumbolo, hujan turun lagi dengan derasnya. Seperti alam mengerti serta ikut merasakan perjalanan kami dan memberikan kami waktu untuk meregangkan tubuh dan beristirahat.
Saat hujan reda, langit membuka tirai kelabu menerangi Ranu Kumbolo di ketinggian 2400 mdpl yang memancarkan kedamaian dalam gemerlapnya.
Kami menemukan tempat yang sempurna untuk mengabadikan momen indah ini. Sambil berbagi cerita dan tawa, kamera kami kembali aktif mengambil gambar, menangkap kegembiraan di wajah kami dan keajaiban alam yang begitu rinci.
Tidak ada yang lebih bermakna daripada merasakan kedamaian dan keindahan di tepi danau Ranu Kumbolo setelah perjuangan yang panjang. Semua kesulitan terbayar dengan pemandangan yang tak terlupakan dan kenangan yang akan selalu kami simpan.
Pada malam hari itu juga, kami tiba lagi di Ranu Pani, dan langsung melanjutkan pulang ke Malang. Petualangan yang sempurna sekaligus pendakian yang tak terduga, di tengah musim hujan, dan segala kendala ternyata menjadi pengalaman yang mengasyikkan.
Ranu Pani, Ranu Kumbolo dan Gunung Semeru menjadi saksi bisu perjalanan kami yang penuh warna. Tak hanya sekadar mendaki, tapi juga merasakan kedamaian dan keajaiban alam yang mengingatkan akan besarnya ciptaan Tuhan.





























